Thursday, January 22, 2015

Contoh Job Vacancy




Job Vacancy 

     Natarian Medika Hospital is one of the Hospital under the auspices of the Foundation Abdi Karya (Yadika) groups engaged in health. In the framework of the development and expansion of services, in need of new personnel and professionals to join us as :

Pharmacist
Qualifications / requirements:
- Male / Female
- D3 Pharmacy
- GPA of at least 2.75
- Honest and thorough
- Able to work with team
- Willing to work hard for the placement: Lampung

     For those who meet the criteria and are interested in filling the position can send a letter of application, CV, recent color photograph, Copy of Diploma and Transcript, as well as certificate support to address:

     Hospital Natarian Medika Jl. Kingdom Natarian 4 Muara White, Natarian - South Lampung 35 362 or sent directly via email to the address: rekrut@rsnatarmedika.com

Sources of information: HR Natarian Medika Hospital via Facebook inbox KarirLampungDotCom, date of February 17, 2014


Makalah Seni Kriya Nusantara





Pengertian
Seni Kriya adalah Bidang keilmuan yang mempelajari pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas berkarya rupa, yang bertolak dari pendekatan medium, kepekaan estetik, kebutuhan keseharian (utiliatrian) dan mengandalkan keterampilan manual. Seni kriya juga adalah merupakan salah satu dari karya senirupa terapan yang proses pembuatannya lebih mengutamakan fungsi dan kegunaan.
Seni kriya (seni kerajinan tangan, handycraft) dapat diartikan, suatu bentuk/karya yang dikerjakan secara manual atau dibantu dengan alat lain sebagai benda yang berguna bagi kepentingan manusia.Hasil karya kriya diutamakan mengandung nilai keunikan konseptual, tema, imajinatif, emosional dan inderawi (visual, tactile, olfactory). Kriya juga merupakan metoda berkarya sekaligus mendesain produk yang mengutamakan nilai kualitas estetika, fungsional, keunikan, tema, makna dan pesan filosofis.
Penciptaan karya seni kriya tidak hanya didasarkan pada aspek fungsionalnya (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan terhadap keindahan (kebutuhan emosional). Dalam perkembangannya, karya seni kriya selalu identik dengan seni kerajinan. Hal ini disebabkan pembuatan karya seni kriya yang tidak lepas dari pengerjaan tangan (hand made) dan memiliki aspek fungsional.


Unsur Karya Seni Kriya
Seni kriya mengutamakan terapan atau fungsi maka sebaiknya terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Utility atau aspek kegunaan
Ø Security yaitu jaminan tentang keamanan orang menggunakan barang-barang itu.
Ø Comfortable, yaitu enaknya digunakan. Barang yang enak digunakan disebut barang terap. Barang-barang terapan adalah barang yang memiliki nilai praktis yang tinggi.
Ø Flexibility, yaitu keluwesan penggunaan. Barang-barang seni kriya adalah barang terap yaitu barang yang wujudnya sesuai dengan kegunaan atau terapannya. Barang terap dipersyaratkan memberi kemudahan dan keluwesan penggunaan agar pemakai tidak mengalami kesulitan dalam penggunaannya.
2. Estetika atau syarat keindahan
Sebuah barang terapan betapapun enaknya dipakai jika tidak enak dipandang maka pemakai barang itu tidak merasa puas. Keindahan dapat menambah rasa senang, nyaman dan puas bagi pemakainya. Dorongan orang memakai, memiliki, dan menyenangi menjadi lebih tinggi jika barang itu diperindah dan berwujud estetik
Fungsi Seni Kriya
Sebagaimana kami sampaikan diatas bahwa seni kriya adalah merupakan salah satu dari karya senirupa terapan dimana proses pembuatannya memiliki tujuan dan fungsi tertentu. Fungsi seni kriya secara garis besar terbagi atas tiga golongan, yaitu sebagai berikut.
1. Seni Kriya sebagai Hiasan (dekorasi)
Banyak produk seni kriya yang berfungsi sebagai benda pajangan. Seni kriya jenis ini lebih menonjolkan segi rupa daripada segi fungsinya sehingga bentuk bentuknya mengalami pengembangan. Misalnya, karya seni ukir, hiasan dinding, cinderamata, patung, dan lain-lain.
2. Seni Kriya sebagai Benda terapan (siap pakai)
Seni kriya yang sebenarnya adalah seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya jenis ini mempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai,bersifat nyaman, namun tidak kehilangan unsur keindahannya. Misalnya, senjata, keramik, furnitur, dan lain-lain.
3. Seni Kriya sebagai Benda mainan
Di lingkungan sekitar sering kita jumpai produk seni kriya yang fungsinya sebagai alat permainan. Jenis produk seni kriya seperti ini biasanya berbentuk sederhana, bahan yang digunakan relatif mudah didapat dan dikerjakan, dan harganya juga relatif murah. Misalnya, boneka, dakon, dan kipas kertas.
Jenis-jenis Seni Kriya
Jenis-jenis seni kriya banyak sekali dan sangat mudah ditemukan di berbagai daerah. Berdasarkan dimensinya, jenis-jenis seni kriya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Seni kriya dua dimensi
Karya seni kriya dua dimensi meliputi sulaman, bordir, mozaik, kolase, batik, tenun, relief, dan hiasan dinding.

2. Seni kriya tiga dimensi
Karya seni kriya tiga dimensi meliputi sebagai berikut.

Teknik dan Bahan Karya Seni Kriya
Ada beberapa teknik pembuatan benda-benda kriya yang disesuaikan dengan bahan. Alat dan cara yang digunakan antara lain cor atau tuang, mengukir, membatik, menganyam, menenun, dan membentuk.
1. Teknik cor (cetak tuang)
Ketika kebudayaan perunggu mulai masuk ke Indonesia, maka mulai dikenal teknik pengolahan perunggu. Terdapat beberapa benda kriya dari bahan perunggu seperti gendering perunggu, kapak, bejana, dan perhiasan.
Teknik cetak pada waktu itu ada dua macam:
· Teknik Tuang Berulang (Bivalve)
Teknik bivalve disebut juga teknik menuang berulang kali karena menggunakan dua keeping cetakan terbuat dari batu dan dapat dipakai berulang kali sesuai dengan kebutuhan (bi berarti dua dan valve berarti kepingan). Teknik ini digunakan untuk mencetak benda-benda yang sederhana baik bentuk maupun hiasannya.
1· Teknik Tuang Sekali Pakai (A Cire Perdue)
Teknik a cire perdue dibuat untuk membuat benda perunggu yang bentuk dan hiasannya lebih rumit, seperti arca dan patung perunggu. Teknik ini diawali dengan membuat model dari tanah liat, selanjutnya dilapisi lilin, lalu ditutup lagi dengan tanah liat, kemudian dibakar untuk mengeluarkan lilin sehingga terjadilah rongga, sehingga perunggu dapat dituang ke dalamnya. Setelah dingin cetakan tanah liat dapat dipecah sehingga diperoleh benda perunggu yang diinginkan.
Disamping teknik cor ada juga teknik menempa yang bahan-bahannya berasal dari perunggu, tembaga, kuningan, perak, dan emas. Bahan tersebut dapat dibuat menjadi benda-benda seni kerajinan, seperti keris, piring, teko, dan tempat lilin. Saat ini banyak terdapat sentra-sentra kerajinan cor logam seperti kerajinan perak. Tempat-tempat terkenal itu antara lain kerajinan perak di Kota Gede Yogyakarta dan kerajinan kuningan yang terdapat di Juwana dan Mojokerto.

2. Teknik Ukir
Alam Nusantara dengan hutan tropisnya yang kaya menjadi penghasil kayu yang bisa dipakai sebagai bahan dasar seni ukir kayu. Mengukir adalah kegiatan menggores, memahat, dan menoreh pola pada permukaan benda yang diukir.
Di Indonesia, karya ukir sudah dikenal sejak zaman batu muda. Pada masa itu banyak peralatan yang dibuat dari batu seperti perkakas rumah tangga dan benda-benda dari gerabah atau kayu. Benda- benda itu diberi ukiran bermotif geometris, seperti tumpal, lingkaran, garis, swastika, zig zag, dan segitiga. Umumnya ukiran tersebut selain sebagai hiasan juga mengandung makna simbolis dan religius.
Dilihat dari jenisnya, ada beberapa jenis ukiran antara lain ukiran tembus (krawangan), ukiran rendah, Ukiran tinggi (timbul), dan ukiran utuh.
3. Teknik membatik
Kerajinan batik telah dikenal lama di Nusantara. Akan tetapi kemunculannya belum diketahui secara pasti. Batik merupakan karya seni rupa yang umumnya berupa gambar pada kain. Proses pembuatannya adalah dengan cara menambahkan lapisan malam dan kemudian diproses dengan cara tertentu atau melalui beberapa tahapan pewarnaan dan tahap nglorod yaitu penghilangan malam.
4. Teknik Anyam
Benda-benda kebutuhan hidup sehari-hari, seperti keranjang, tikar, topi dan lain-lain dibuat dengan teknik anyam. Bahan baku yang digunakan untuk membuat benda-benda anyaman ini berasal dari berbagai tumbuhan yang diambil seratnya, seperti bamboo, palem, rotan, mendong, pandan dan lain-lain.
5. Teknik Tenun
Teknik menenun pada dasarnya hamper sama dengan teknik menganyam, perbedaannya hanya pada alat yang digunakan. Untuk anyaman kita cukup melakukannya dengan tangan (manual) dan hampir tanpa menggunakan alat bantu, sedangkan pada kerajinan menenun kita menggunakan alat yang disebut lungsi dan pakan. Daerah penghasil tenun ikat antara lain
6. Teknik membentuk
Penegertian teknik membentuk di sini yaitu membuat karya seni rupa dengan media tanah liat yang lazim disebut gerabah, tembikar atau keramik. Keramik merupakan karya dari tanah liat yang prosesnya melalui pembakaran sehingga menghasilkan barang yang baru dan jauh berbeda dari bahan mentahnya.

Contoh Khutbah Jum'at




Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hari-hari yang kita lalui, jum'at yang satu ke jum'at lainnya, termasuk jum'at yang lalu ke jum'at hari ini merupakan waktu yang tak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Sementara bumi yang kita tempati adalah tempat paling indah di dunia ini. Dan tidak pernah ada duanya, sampai ketika kita atas izin Allah dimasukkan ke dalam surga. Tempat terindah yang keindahannya tidak bisa dibaca oleh lintasan pikiran dan imajinasi manusia.

Nikmat bumi adalah nikmat besar. Bayangkan saja jika Allah SWT menarik lapisan atmosfir yang ada di atas bumi. Pastilah dalam sekejap matahari akan membakar seluruh makhluk yang ada di atas bumi. Dan kemudian bumi itu ikut terbakar karenanya. Atau bayangkan seandainya polusi yang dilakukan manusia terus terjadi dalam skala yang berlipat ganda, lalu lapisan karbondioksida menutup langit kita. Bumi tidak akan sehangat sekarang, yang datang kemudian adalah dingin yang menghancurkan. Bahkan sebelum itu, manusia akan lebih dulu mengalami kematian karena udara kotor yang sangat akut telah dihirup dalam kesehariannya.

Maka nikmat bumi adalah nikmat yang harus kita syukuri. Dan Islam, sebenarnya memiliki perangkat-perangkat untuk mensyukurinya, sekaligus sebagai upaya menjaga bumi ini.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hari ini kita telah mendapati kerusakan bumi yang cukup hebat. Pada 28 Februari 2008 yang lalu, para peneliti menyebutkan bahwa lapisan es di semenanjung Wilkins di Antartika, yang selama ini merupakan lapisan es abadi sudah mulai mencair dengan kecepatan yang sangat mengejutkan. Tentu saja berita ini mengejutkan dunia. Namun yang lebih penting, pencairan es abadi ini, menurut penelitian itu, terjadi akibat pemanasan global. Kekhawatiran yang kemudian muncul adalah tenggelamnya pulau-pulau kecil jika kondisi ini dibiarkan.

Di negeri kita, bencana demi bencana juga terjadi. Yang semula mungkin tidak pernah terpikirkan. Saat kemarau, maka yang datang adalah kemarau panjang. Akibatnya, air sulit dicari, pertanian gagal panen, dan sebagainya. Sementara jika hujan, seringkali yang dirasakan bukan hujan sebagai rahmat, tetapi hujan yang membawa banjir.

Kerusakan laut juga luar biasa. Jumlah ikan menjadi berkurang cukup signifikan. Bahkan beberapa jenis ikan sudah punah. Data terbaru menunjukkan di tingkat dunia 77 persen dari 441 spesies ikan sudah diambang kepunahan.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Allah SWT mengingatkan tentang fenomena semacam ini melalui firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum : 41)

Melalui ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa kerusakan bumi baik di darat maupun di laut, adalah karena ulah manusia. Kesalahan manusia. Dan kerusakan itu tidak akan bisa dihentikan kecuali jika manusia menyadari kesalahannya kemudian melakukan perbaikan.

Ketika menafsirkan ayat ini Imam Asy-Syaukani mengatakan, "(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan menjelaskan bahwa perbuatan syirik dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta."

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman dalam bentuk nahy (larangan) agar manusia tidak berbuat kerusakan:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A'raf : 56)

Ibnu Qayyim mengatakan, "Mayoritas ahli tafsir mengatakan, janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan mengajak ketaatan kepada selain Allah Azza wa Jalla setelah Allah Azza wa Jalla memperbaikinya dengan mengutus para Rasul dan menerangkan syariat serta mengajak supaya taat kepada Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya menyembah selain Allah, berdoa kepada selain-Nya dan melakukan perbuatan syirik kepada-Nya adalah kerusakan paling besar di muka bumi. Bahkan kerusakan bumi pada hakikatnya hanyalah disebabkan oleh syirik kepada Allah dan menyalahi perintah-Nya."

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Jadi penyebab rusaknya bumi dan berbaga bencana yang menimpa itu bisa diklasifikasikan menjadi dua. Pertama adalah penyebab tidak langsung, kedua penyebab langsung.

Penyebab tidak langsung adalah seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim dan Imam Asy-Syaukani saat menjelaskan ayat-ayat tentang kerusakan bumi. Yaitu syirik kepada Allah dan maksiat kepada-Nya.

Mungkin kita akan bertanya: bagaimana mungkin syirik kepada Allah dan bermaksiat kepada-Nya, misalnya meninggalkan shalat dan melakukan zina, bisa membuat bumi menjadi rusak? Jawabannya adalah karena Allah SWT yang menciptakan bumi ini dan telah menggariskan hukumnya. Ia telah berjanji bahwa rezeki akan dibukakan kepada siapa yang beriman dan bertaqwa, sebaliknya, jika manusia durhaka kepada Allah SWT maka yang didatangkan adalah siksa diantaranya berupa bencana alam dan musibah demi musibah.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, "Diantara pengaruh buruk perbuatan maksiat terhadap bumi adalah banyak terjadi gempa dan longsor di muka bumi serta terhapusnya berkah. Rasulullah SAW pernah melewati kaum Tsamud, beliau melarang para sahabat melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang mereka meminum airnya, menimba sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum. Karena maksiat kaum tsamud ini telah mempengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan."

Di samping itu, bumi dan segenap unsur di dalamnya, baik itu gunung, lautan, pepohonan dan binatang adalah makhluk yang tunduk pada Allah. Mereka semua Islam, tunduk kepada Allah. Mereka juga menjadi sayang jika manusia tunduk kepada Allah, namun jika manusia bermaksiat, mereka benci. Maka jika seorang yang ahli maksiat meninggal, maka bumi, pepohonan dan binatang terlepas dari kerusakan yang diakibatkan oleh maksiatnya.

وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

(Kematian) seorang hamba yang fajir (ahli maksiat) akan menjadikan manusia, negeri, pepohonan dan binatang terlepas (dari kerusakan akibat maksiatnya). (HR. Bukhari dan Muslim)

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Penyebab kedua adalah penyebab langsung. Yakni aktifitas-aktifitas yang dampak atau akibatnya bisa langsung diamati dan dibuktikan secara indrawi berefek pada kerusakan bumi. Sebenarnya kategori ini juga masih masuk dalam ungkapan Ibnu Qayyim dan Imam Syaukani serta para mufassirin yakni maksiat. Hanya saja ini adalah maksiat khusus yang merupakan pelanggaran terhadap hubungan baik dengan alam (hablum minal alam).

Salah satu contohnya adalah menebang hutan secara liar. Sehingga jumlah pepohonan semakin sedikit. Lahan hijau semakin sempit. Akhirnya udara yang sudah sedemikian tercemar tidak bisa dibersihkan atau dinetralisir.

Sementara Islam justru memotivasi umatnya untuk gemar menanam pohon. Tidak hanya kebaikan dunia yang akan diperolehnya, tetap juga pahala di akhirat.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً

Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah. (HR. Bukhari)

Dalam hal ini, Imam Qurthubi bahkan menjelaskan tentang hukum fardhu kifayah bagi kaum muslimin untuk menanam pohon, dan perlu memerintahkan rakyatnya. "Bercocok tanam termasuk fardhu kifayah. Pemerintah berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, termasuk menanam pohon."

Betapa pentingnya menanam pohon atau reboisasi ini, sampai-sampai disebutkan dalam satu hadits agar seorang muslim tetap melanjutkan menanam pohon meskipun kiamat tiba, sementara sudah ada benih yang siap ditanam.

إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah. (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Hadits ini di-shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

Islam juga melarang pencemaran. Dalam hadits disebutkan pencemaran air, seperti larangan kencing di air yang diam. Masa itu memang belum ada pencemaran udara. Tetapi dari larangan ini bisa diqiyaskan bahwa pencemaran udara juga dilarang.




KHUTBAH KEDUA

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Bumi ini adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka kewajiban kita adalah memeliharanya agar tetap layak huni. Kewajiban kita adalah menjaga kelestarian dan keseimbangan alam sehingga tidak justru semakin rusak.

Dengan bertauhid kepada Allah, keimanan yang benar. Serta kita menjauhi segala maksiat, baik yang berdimensi hablum minallah, hablum minannas, maupun hablum minal alam. Saat penduduk negeri ini beriman dan bertaqwa, saat itulah keberkahan akan terasa, rezeki akan datang dari segenap penjuru langit dan bumi.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)


Demikianlah, penyebab kerusakan itu harus kita hindari untuk menjaga bumi kita dan mendapatkan berkah dari Allah SWT.